Mahasiswa UMI Gelar Aksi “30 Tahun AMARAH”, Soroti Impunitas Aparat

SUARAHIJAU.ID MAKASSAR— Aliansi Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (AMU) menggelar aksi demonstrasi di Gerbang 2 Kampus UMI dalam rangka memperingati 30 tahun peristiwa AMARAH, Jumat (24/4/26).

Aksi ini mengangkat tema “30 Tahun AMARAH” menolakImpunitas Pelaku dan Keterlibatan Aparat di Ranah Sipil.

Ketua PMII rayon teknik, Laode Muhammad Sofyan, menegaskan bahwa peringatan AMARAH bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai upaya mengingat kembali kekerasan aparat yang pernah terjadi di lingkungan kampus.

“AMARAH bukan hanya untuk diperingati, tetapi ada hal besar di balik itu, yaitu kekerasan aparat pada masa itu. Ini menjadi momen dan kenangan bersejarah bagi kami, apalagi salah satu korbannya dari mahasiswa Teknik Arsitektur,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti isu utama terkait penolakan impunitas atau kekebalan hukum aparat kepolisian. Mereka menilai impunitas menjadi sumber kekuatan aparat yang berpotensi melanggengkan pelanggaran hukum hingga saat ini.

Selain itu, mahasiswa juga mengkritik keterlibatan aparat di lingkungan kampus, termasuk dalam kegiatan akademik.

“Kami melihat adanya keterlibatan aparat dalam kampus, baik sebagai bagian dari program maupun sebagai tenaga pengajar. Ini bertentangan dengan semangat kebebasan berpikir di dunia akademik,” tambah Sofyan.

Sementara itu, Jendral lapangan, Sudi, menyoroti mekanisme peradilan terhadap aparat yang dinilai tidak adil, khususnya dalam penggunaan pengadilan militer untuk kasus kekerasan.

“Jika aparat diadili di pengadilan militer, itu seperti seorang ibu yang mengadili anaknya sendiri. Tentu ada keberpihakan. Karena itu, kami menuntut agar kasus-kasus tersebut juga dibawa ke ranah pengadilan sipil,” jelasnya.

Menurut aliansi mahasiswa, banyak kasus kekerasan yang melibatkan aparat berakhir tanpa kejelasan hukum, sehingga memperkuat praktik impunitas.Menurut aliansi mahasiswa, banyak kasus kekerasan yang melibatkan aparat berakhir tanpa kejelasan hukum, sehingga memperkuat praktik impunitas.

Baca Selengkapnya :

Demo Besar Pecah di Sejumlah Kota Indonesia, Tuntut Pemangkasan Hak Istimewa DPR

Selain isu hukum, mahasiswa juga menyinggung kondisi internal kampus, termasuk dugaan pembatasan aktivitas mahasiswa dan kerja sama antara kampus dengan aparat kepolisian dalam berbagai program.

Mereka menilai langkah peliburan kampus menjelang aksi sebagai upaya menjaga citra institusi.

Di sisi lain, mahasiswa juga mengangkat isu dugaan penggelapan dana beasiswa di lingkungan kampus. Mereka menilai proses penanganan kasus tersebut belum transparan, terutama karena minimnya keterlibatan media dalam pengawasan.

Terbaru :

HMI Koorkom UMI Peringati Amarah Bawa 11 Tuntutan Seperti Dugaan Korupsi Beasiswa

Aksi ini diharapkan dapat membangun kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa.

“Harapan kami, aksi ini mampu menumbuhkan kesadaran bahwa mahasiswa harus tetap berdiri di atas keadilan dan tidak kalah terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah,” tutup Sofyan.

 

Penulis : Andi Oryza Sativa

Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari LEMBAGA

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca