Opini:Lembaga Advokasi Mahasiswa Akhir Solusi Dibalik Diskriminasi Lipatan Kertas Skripsi
Oleh : Muh Nur Alqadri
Suarahijau.com – Waktu normal akademik di perkuliahan yakni kurang dari 4 tahun atau 8 semester, lewat dari pada itu bisa disebutkan sebagai mahasiswa tingkat akhir.
Banyaknya tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa tingkat akhir menjadi hal yang patut untuk dibahas.
Hal yang mendasari pembahasan ini yakni adanya potensi diskriminasi akademik terhadap mahasiswa tingkat akhir yang lebih rentan dibanding Mahasiswa baru (Maba).
Baca Juga :
Ketum BLM FS UMI Soroti Kurangnya Fasilitas Co-Working Space
Beberapa potensi diskriminasi akademik yang saya maksud yakni perubahan sepihak akan judul dan isi dari skripsi yang menyebabkan si peneliti terpaksa mengulang melakukan pengolahan data.
Kemudian praktek sogok menyogok antar mahasiswa dan Dosen pembimbing merupakan hal paling sering terjadi yang pada dasarnya pembentukan karakter mental tersebut dapat memicu terbentuknya individu malad administrasi kedepannya jika terjun ke dunia profesional kerja.
Beberapa kasus pidana juga menyebutkan adanya dugaan pelecehan seksual saat melakukan bimbingan skripsi yang sangat rentan terjadi dikalangan mahasiswi tingkat akhir.
Melihat adanya potensi tersebut, beberapa bulan terakhir saya menemui mahasiswa yang mengalami banyak kendala dalam penyelesaian masa studinya.
Dari pertemuan itu saya menyimpulkan jika wajar saja jika nantinya ada Lembaga Advokasi Mahasiswa Akhir (LAMA) untuk melakukan pengawalan kasus diskriminasi akademik.
Kemudian beberapa peran dan fungsi LAMA ketika lembaga tersebut terbentuk yakni.
1. LAMA menjadi platform pengaduan kasusĀ
Melihat adanya kasus perubahan sepihak terkait skripsi serta kurang profesionalitasnya dari seorang dosen pembimbing yang kerap dialami beberapa mahasiswa tingkat akhir. LAMA bisa menjadi tonggak pengaduan kasus kepada pihak yang bertanggung jawab agar dapat dilakukan tindak lanjut berdasarkan bukti yang dialami langsung oleh mahasiswa tingkat akhir.
2.LAMA menjadi forum diskusi strategis mahasiswa terkait akademik
Seseorang dalam menyelesaikan masalahnya terkadang memerlukan kelompok sosial untuk berdiskusi terkait pemecahan masalah yang dialami. Sehingga LAMA bisa menjadi tawaran yang dapat menampung dan membahas secara rinci permasalahan mahasiswa tingkat akhir, entah untuk meluapkan emosi lantaran tak kunjung menerima persetujuan untuk maju melakukan sidang akademik.
3. LAMA menjadi sarana penyelesaian studi kelompok
Berbeda dengan diskusi, LAMA kali ini juga berperan untuk mengadakan kelompok kerja bersama dalam membuat skripsi sehingga tak hanya menjadi platform pengaduan tapi juga menjadi wadah kerja kelompok yang memungkinkan dapat mempercepat penyelesaian skripsi mahasiswa tingkat akhir.
4.LAMA menjadi pengawal kasus apabila terjadi kekerasan akademik
Mahasiswa tingkat akhir sangat rentan mengalami kekerasan akademik mulai dari skorsing hingga Drop out (DO). Lantaran masa studi yang telah lewat. Padahal melihat beberapa kasus, banyak juga sumber permasalahan itu disebabkan oleh pihak akademiknya sendiri. Seperti dosen pembimbing yang menunda pertemuan, atau bahkan terjadi konflik emosional antara dospem dan mahasiswa. Sehingga LAMA bisa menjadi solusi mengatasi masalah tersebut dengan memberikan pengawalan serta perlindungan terhadap mahasiswa.
Melihat dilema yang dialami seorang mahasiswa tingkat sepertinya perlu adanya kebijakan atau perhatian khusus. Lantaran mahasiswa akhir bisa terbilang seorang yang sangat ingin betul menyelesaikan studinya dan menempuh fase baru kehidupan.
Sangat disesali ketika seorang mempersulit penyelesaian mahasiswa tingkat akhir, lantaran beberapa kawan saya bahkan terpaksa bekerja menambah uang sakunya lantaran uang yang diberikan oleh orang tuanya sudah terbatas sebut saja disebabkan adik
tingkat akhir yang menyusul berkuliah.
Menjadi mahasiswa tingkat akhir memanglah diperhadapkan dengan berbagai masalah yang perlu dihadapi dengan mental baja lantaran harus tahan akan cacian dari dospem.
Padahal jika diliat membimbing berarti membentuk tapi ketika dibentuk dalam waktu lama dapat menimbulkan rasa jenuh sehingga frustasi.
Terlepas dari rentan tindak diskriminasi maka yang paling penting dari pada itu adalah saling support dan saling mendukung antara mahasiswa baik kepada dosen pembimbing.
Karena, tentunya dengan saling support tersebut dapat memberikan rasa cinta dan kasih di akhir masa studinya sebelum meninggalkan kampus yang telah menghiasi masa muda seorang mahasiswa.

Comments (0)