OPINI, Maba Fakultas Sastra Musti Pertanyakan Pembangunan Gedung Teater yang Mangkrak
MAKASSAR, suarahijau.com – Pembangunan Gedung Teater Fakultas Sastra UMI kini menjadi buah bibir seluruh Mahasiswa UMI lantaran pembangunannya sejak beberapa tahun yang lalu belum juga selesai.
Mahasiswa Baru angkatan 2023 Fakultas sastra perlu pertanyakan pembangunan gedung teater yang hingga saat ini belum ada titik jelas kapan selesai pembangunannya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh suarahijau.com, bahwa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM FS UMI) pernah melakukan dialog akademik perihal pembangunan Gedung Teater tersebut namun, di bulan Februari 2023 lalu, bahkan mengelar aksi di depan Fakultas Sastra.
Baca Juga :
BEM FS UMI Akan Gelar Dialog Akademik membahas persoalan Akademik dan Kelembagaan
Aliansi Organda SE UMI bentangkan Spanduk penolakan Ciptaker, Tuai respon dukungan pengguna jalan
Salahsatu Mahasiswa Fakultas sastra yang tidak ingin disebut identitasnya mengungkapkan, mengungkapkan bahwa dirinya pernah ikut dalam dialog akademik namun tidak mendapatkan respon dari pihak Fakultas sastra.
“Kita pernah bersurat ke Fakultas untuk dialog akademik untuk membahas berbagai permasalahan di Fakultas Sastra namun tidak ada tanggapan positif dari Birokrasi Fakultas, hal tersebutlah yang mendorong aksi di bulan Februari, ” ungkapnya Aidit (Nama Samaran) saat ditemui Kamis (5/10).
Menurutnya salah satu hal yang menyita perhatian ialah pembangunan Gedung Teater yang hingga pada saat ini belum ada kejelasan terkait tindak lanjutnya.
“Tentu salah satu hal yang pernah kita pertanyakan ialah kelanjutan pembangunan gedung teater yang kemarin dijanjikan 2 bulan setelah dialog akan ada tinda lanjutnya,” ungkapnya.
Menurutnya hal ini perlu dipertanyakan oleh Mahasiswa Baru Fakultas sastra dan ia beranggapan jika hal tersebut adalah hal wajar melihat pembangunan di UMI sangatlah pesat namun tidak menyentuh semua aspek pembangunan termasuk terkhusus Gedung Teater.
“Suatu kewajaran ketika Mahasiswa Baru Fakultas sastra pertanyakan terkait gedung teater, ” tuturnya.
“Dan disinilah peran dari BEM beserta seluruh lembaga kemahasiswaan di sastra untuk memberikan penalaran terkait gedung tersebut, ” tambahnya.
Tidak sampai disitu menurutnya banyak hal pasca dialog akademik yang musti dijelaskan pada Mahasiswa Baru.
“Ketika kita berbicara Fakultas Sastra dalam perspektif Lembaga Kemahasiswaan, maka sebagai lembaga mahasiswa tentu sudah menjadi kewajiban untuk menjelaskan terkait kondisi polemik yang ada, ” jelasnya.
“Jangan ada lembaga yang hanya fokus terhadap prokeenya tapi tidak melihat realita keadaan lembaga disastra yang seakan-akan buta untuk di ungkapkan, ” tambahnya.
Menurutnya banyak Pekerjaan Rumah (PR) Fakultas Sastra yang perlu ditindaklanjuti untuk diketahui Mahasiswa Fakultas sastra salah satunya Lembaga Boneka.
“Sebenarnya banyak sekali ini keadaan yang perlu dituntaskan bahasanya itu PR kita bersama dan ini perlu cerita kan bahkan kita konsolidasikan ulang terkait bagaimana strategi, contohnya saja kit liat ada Lembaga Boneka tapi dia adalah Kedok Fakultas saja, dan lembaga itu yang bisa memecah belah beberapa lembaga, sebut saja lembaga itu buatan salah satu prodi, ” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan Mahasiswa Baru jangan hanya menunggu untuk dijelaskan melainkan perlu mempertanyakan terkait gedung dan juga masalahnya.
“Salahnya adalah Maba hanya menunggu untuk dijelaskan walau pengurus Lembaga memiliki kewajiban untuk dijelaskan terkait apa itu Lembaga Boneka yang dijadikan kedok juga seperti pembangunan kan itu bisa dipertanyakan kan, ” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan Mahasiswa Baru perlu mempertanyakan terkait masalah perkuliahan hibrid yang hingga saat ini menurutnya tidak efektif.
“Bodohnya adalah kita tau ini perkuliahan tidak efektif masih saja kita pertahankan nah mahasiswa baru Perlu pertanyakan hal ini, jangan mau di jadikan objek saja, ” tegasnya.
Terakhir ia menekankan kepada seluruh lembaga kemahasiswaan di Fakultas sastra agar bersatu untuk menegaskan kembali pembangunan Gedung teater dan beberapa permasalahan di fakultas sastra.
“Oleh karena itu kita sebagai seluruh Lembaga Mahasiswa di fakultas sastra perlu bersatu dan menyatakan sikap untuk menindaklanjuti pembangunannya termasuk lembaga boneka yang saya sebut sebagai kedok Fakultas untuk menumbangkan nalar kreatifitas salasatu lembaga bahkan semuanya perlu dipertanyakan, ” tutupnya. (Tedi)
Editor : Guevera

Comments (0)